Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan sanksi kepada militer Israel. Hal ini disebabkan dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan militer Negeri Yahudi kepada warga Palestina di Tepi Barat.

Mengutip Al Jazeera, situs berita Axios yang berbasis di AS melaporkan bahwa Washington berencana untuk menjatuhkan sanksi terhadap batalyon Netzah Yehuda Israel. Ini merupakan batalyon infanteri yang didirikan sekitar seperempat abad yang lalu untuk memasukkan orang-orang Yahudi ultra-Ortodoks ke dalam militer.

“Sanksi tersebut akan melarang batalion dan anggotanya menerima segala jenis bantuan atau pelatihan militer AS,” kata sumber dikutip Senin (22/4/2024).

Netzah Yehuda memang memiliki catatan kelam dalam perlakukannya terhadap tahanan Palestina. Pada tahun 2022, komandan batalyon itu ditegur dan dua petugas dipecat atas kematian seorang warga Amerika keturunan Palestina yang lanjut usia setelah ditahan di Tepi Barat.

Ada beberapa insiden lain dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa di antaranya terekam dalam video, di mana tentara Netzah Yehuda dituduh atau didakwa melakukan pelecehan terhadap tahanan Palestina.

“Hukuman” ini diberikan setelah AS mengumumkan serangkaian sanksi baru terkait dengan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki. Ini merupakan perbedaan baru antara Washington dengan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.

“Jika ada yang berpikir mereka dapat menjatuhkan sanksi pada satu unit (tentara Israel), saya akan melawannya dengan seluruh kekuatan saya,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.

Sementara itu, Menteri Kabinet Perang Israel Benny Gantz mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken. Ia memintanya untuk mempertimbangkan kembali masalah tersebut.

“Sanksi seperti itu merupakan sebuah kesalahan karena akan merugikan legitimasi Israel selama masa perang,” ujar Gantz.

Secara terpisah, pemimpin Partai Buruh Israel Merav Michaeli menyerukan pembubaran unit tentara Netzah Yehuda. Ia mengatakan bahwa unit tersebut membunuh warga Palestina “tanpa alasan yang jelas”.

“Sanksi tersebut merupakan pengakuan atas kenyataan dan pemahaman bahwa tindakan Israel di wilayah tersebut tidak dapat dilanjutkan,” kata Michaeli pada X.

“Tindakan kekerasan dan korup yang dilakukan batalion Netzah Yehuda dan orang-orang di sekitarnya telah diketahui selama bertahun-tahun, dan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk menghentikannya,” tambahnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


AS Kirim Ultimatum Baru ke Israel Soal Gaza, Ini Isinya


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *