Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan situasi geopolitik yang memanas antara Iran dan Israel memicu modal asing keluar (capital outflow) dari negara berkembang seperti Indonesia. Potensi perang di depan mata membuat investor berbondong-bondong mencari aset aman atau safe-haven.

Airlangga melihat masyarakat mulai mencari aset likuid yang cenderung aman dan stabil, seperti dolar AS dan emas. Permintaan yang tinggi atas aset tersebut ikut mendorong kenaikan harganya.

“Eskalasi tentu meningkatkan ketidakpastian dan tentu yang harus kita mitigasi adalah beralihnya aset ke safe haven dalam hal ini dolar AS, emas, nikel juga mengalami kenaikan,” ujar Airlangga saat ditemui setelah Sidang Kabinet di Istana Negara, Selasa (16/4/2024).

Harga emas mencatat rekor penutupan lainnya pada hari Senin (15/4/2024). Kontrak teraktif bulan Juni untuk emas berjangka diperdagangkan 0,37% lebih tinggi dan menetap pada level harga US$ 2.383 per ounce, dan beberapa pihak mengatakan masih ada ruang untuk bergerak. Bahkan, dikutip dari CNBC Internasional, emas diperkirakan dapat menyentuh level US$ 3.000 per ounce.

Permintaan terhadap aset safe-haven meningkat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Iran menembakkan lebih dari 300 drone dan rudal langsung ke Israel.

Kecenderungan investor mencari safe-haven ini membuat nilai tukar dan saham mengalami pelemahan. Kondisi ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi di kancah global.

Rupiah bertekuk lutut terhadap dolar AS pagi ini. Dolar AS sempat menyentuh level Rp 16.200 per dolar AS pada 09:28 WIB, menurut data Refinitiv. Pada siang ini, 14:49 WIB, dolar AS masih perkasa di level Rp 16.170 per dolar AS.

Kendati demikian, Airlangga memastikan pemerintah terus melihat reform struktural dan menjaga ekspektasi daripada investor, dan juga memperkuat daya saing dan juga untuk menarik investasi jangka panjang di Indonesia.

Di sisi ekonomi, Airlangga menegaskan Indonesia dibandingkan peer-countries relatif masih dalam situasi aman.

“Dan tentu kita perlu mau lakukan beberapa kebijakan antara lain bauran fiskal dan moneter, menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga APBN, dan memonitor kenaikan logistik dan kenaikan harga minyak,” ujarnya.

Menurut Airlangga, Laut Merah dan Selat Hormuz yang terletak di Timur Tengah itu penting, terutama karena Selat Hormuz dilewati sebanyak 33.000 kapal minyak dan Laut Merah itu dilewati sekitar 27.000 kapal barang, dan peningkatan freight cost itu menjadi salah satu hal yang harus dimitigasi.

Selain itu, di sisi sektor riil, dampak depresiasi nilai tukar dan kenaikan harga minyak ini harus diperhatikan karena efeknya mempengaruhi perdagangan Indonesia.

“Tentu sangat berpengaruh terhadap impor, namun tentu efek juga terhadap eksportir mendapatkan devisa lebih banyak. Tentu ini plus minusnya kita harus jaga,” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Kurs Dolar Dipatok Rp15.400 di APBN 2025, Ini Efeknya ke Ekonomi


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *