Jakarta CNBC Indonesia – Tetangga RI, Selandia Baru mendekati Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO). Negara itu mengatakan siap menandatangani perjanjian kerja sama baru dengan aliansi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) tersebut.

Hal ini ditegaskan Menteri Luar Negeri Winston Peters setelah kunjungan dua hari ke markas NATO di Brussels. Dikatakan bahwa program kemitraan dengan aliansi tersebut akan disepakati dalam beberapa bulan mendatang”.

“Pemerintah koalisi telah memperjelas penekanan erat pada kerja sama dengan mitra tradisional Selandia Baru … NATO adalah bagian besar dari hal tersebut,” kata Peters, dikutip dari AFP, Jumat (5/5/2024).

Sebenarnya Selandia Baru telah menjalin kemitraan dengan NATO sejak tahun 2012. Namun kesepakatan baru ini diharapkan dapat mendorong keselarasan strategis yang lebih erat.

Peters sendiri diperkirakan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken minggu depan.

Kementerian Pertahanan Selandia Baru tahun lalu mengakui pasukannya “tidak dalam kondisi fit untuk menanggapi tantangan di masa depan”. Keinginan Selandia Baru untuk memperbarui kekuatan militernya diyakini didorong yang berjumlah sekitar 15.000 personel dan meningkatkan persenjataannya yang sudah tua kemungkinan besar akan menjadi prioritas utama.

Diketahui, Wellington juga berencana untuk bergabung dalam aliansi gabungan Australia, AS, dan Inggris di Asia Pasifik AUKUS. Ini menyangkut kerja sama mengenai penggunaan kecerdasan buatan, senjata hipersonik, dan teknologi baru lainnya dalam militer.

Sejak Perang Dunia II, sebenarnya Selandia Baru telah menjadi bagian dari aliansi berbagi intelijen FiveEyes”. Negeri itu membawa kemitraan dengan Australia, Kanada, Inggris, dan AS.

China Bisa Ngamuk

Langkah Selandia Baru ini diyakini bisa berbahaya. Pasalnya Negeri Kiwi tergantung secara perdagangan dengan China, yang menjadi mitra komersial terbesar Selandia Baru.

Pengamat khawatir bahwa penandatanganan perjanjian baru dengan NATO dapat dilihat sebagai “bendera merah” oleh Beijing. Saat ini pun, sudah ada tanda-tanda bahwa ketegangan dengan Tiongkok sedang meningkat

“Selandia Baru sedang memainkan permainan yang berbahaya,” kata analis geopolitik di Universitas Victoria Wellington, Geoffrey Miller.

“Pada titik tertentu, Tiongkok mungkin akan mengambil tindakan balasan,” katanya.

Bukan hanya NATO, soal AUKUS pun membuat China sangat kritis terhadap pakta itu. AUKUS sendiri sebelumnya berencana menyediakan armada kapal selam bertenaga nuklir kepada Australia.

Sementara itu, hubungan Selandia Baru dan China memang sudah panas sejak 2021. Ini dimulai saat Selandia Baru mengungkapkan kelompok yang didukung China meretas sistem parlementernya.

Beijing menolak tuduhan serangan siber tersebut. Negara itu menyebutnya sebagai tuduhan yang tidak berdasar dan tidak bertanggung jawab.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


LPEI Biayai Anak Usaha INKA Ekspor Ratusan Gerbong KA ke Selandia Baru


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *