Jakarta, CNBC Indonesia – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masih memiliki segudang Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dituntaskan pasca rampungnya pelepasan divestasi saham 14% ke Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID pada 26 Februari 2024 lalu.

Salah satu pekerjaan rumah INCO yang harus segera diselesaikan yaitu investasi di proyek hilirisasi nikel atau fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel baru.

Seperti diketahui, PT Vale Indonesia sejak bertahun-tahun lalu berencana untuk mengerjakan 3 proyek smelter baru, yakni proyek smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, smelter feronikel di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, dan ekspansi smelter yang ada saat ini di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Ketiga proyek smelter tersebut diperkirakan memakan investasi sekitar US$ 8,6 miliar – US$ 9 miliar atau sekitar Rp 143 triliun (asumsi kurs Rp 15.945 per US$).

Namun sayangnya, ketiga proyek tersebut hingga kini belum kunjung beroperasi. Smelter HPAL di Pomalaa misalnya, Vale bekerja sama dengan investor asal China, Zhejiang Huayou Cobalt Co, dan menargetkan smelter baru yang menghasilkan salah satu komponen untuk baterai kendaraan listrik ini beroperasi pada 2026.

Menteri BUMN Erick Thohir usai menyaksikan penandatanganan Perjanjian Definitif Pengalihan 14% Saham Vale Indonesia kepada MIND ID pada 26 Februari 2024 lalu mengatakan, MIND ID akan melakukan kontrol bersama dengan PT Vale Indonesia atau joint control.

“Nilai investasi yang dihasilkan sebesar Rp 3.050 per lembar saham. MIND ID akan sama-sama mengendalikan PT Vale Indonesia karena ini sifatnya kontrol bersama atau joint control over corporation,” ungkap Erick di Jakarta, Senin (26/02/2024).

Dengan demikian, dia berharap MIND ID sebagai BUMN bisa ikut mengawasi komitmen hilirisasi perusahaan.

Dia menjelaskan, Indonesia memiliki peran strategis dalam industri nikel global sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, sehingga Indonesia memiliki potensi besar untuk mengambil kendali dalam menentukan arah industri nikel.

Melalui divestasi ini, menurutnya Indonesia dapat menunjukkan komitmennya untuk berada di garis depan dalam pengembangan hilirisasi industri nikel.

“Dengan melakukan divestasi yang strategis, MIND ID dapat memperkuat posisi mereka dalam global value chain serta mendukung kebutuhan ekspor dalam mendukung program hilirisasi,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Staf Khusus Bidang Peningkatan Pengusaha Nasional Kementerian Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pradana Indraputra.

Dia menyebut, setidaknya ada empat PR yang menanti Vale untuk dituntaskan. Pekerjaan pertama yang harus segera diselesaikan oleh INCO yakni mengenai program hilirisasi.

“Seperti yang pemerintah utarakan, apapun komoditasnya kita nggak mau stop di hulu, semua harus dihilirikan,” ujar Pradana kepada CNBC Indonesia dalam acara Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Rabu (03/04/2024).

Pradana menjelaskan, dalam konteks komoditas nikel, terdapat dua metode pengolahan yakni dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Adapun, untuk HPAL sendiri, pemerintah mendorong INCO melakukan hilirisasi lebih lanjut dengan tidak hanya berhenti di tahap prekursor.

“Pemerintah sekarang memang mencoba untuk bagaimana caranya Vale Indonesia ke depan tidak hanya stop prekursor, tapi sampai katoda. Nah ini memang yang masih dalam tahapan diskusi kami. Sampai hari ini, per hari ini rencana itu sampai prekursor,” kata Pradana.

PR kedua, pemerintah berharap INCO dapat mempertahankan good mining practices yang selama ini telah berjalan dengan baik.

PR ketiga, pemerintah berharap agar kue ekonomi yang berada di daerah pertambangan INCO dapat dibagi rata dengan para pengusaha lokal. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya fokus pada program Corporate Social Responsibility (CSR) saja.

“Jadi tidak hanya dalam konteks CSR-nya, tapi kue ekonomi ini harus terbagi rata dengan pelaku usaha lokal dan harus ada orang-orang kaya baru di sana, ini PR ketiga yang kami harapkan dari Vale Indonesia,” ujarnya.

Kemudian PR keempat, pemerintah berharap penggunaan teknologi dalam sektor pertambangan dan hilirisasi INCO dapat melibatkan anak muda Indonesia. Mengingat, banyak potensi-potensi muda yang dapat dikembangkan.

“Teknologi terus berkembang kami juga berharap anak-anak muda Indonesia ada yang kuliah di luar negeri ada yang top graduate masing-masing Universitas Indonesia dilibatkan dalam proses inovasi teknologi. Jadi kami berharap sekali bahwa Vale bisa menjadi salah satu kesatuan ekonomi dan juga pembangunan SDM dan SDA di Indonesia,” kata dia.

Sebagai informasi, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menargetkan produksi nickel matte pada 2024 ini sebesar 70.800 ton, naik tipis dibandingkan realisasi produksi pada 2023 sebesar 70.728 ton.

Semua produk nikel Vale bisa dikatakan sudah dalam proses pengolahan dan pemurnian dalam bentuk nickel matte. Namun sayangnya sudah bertahun-tahun kapasitas dan hilirisasi di INCO ini tak juga berkembang.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Heboh Divestasi Vale, Berapa Harganya? Ini Kata ESDM


(wia)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *